• Narsis Tidak Dilarang

    Para ahli memperkiraan bahwa hanya ada 5% orang yang memiliki NPD. Dikutip dari Psych Central, laki-laki memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami NPD dibanding perempuan...

  • Cerita Hileud Jepang

    Semuanya bermula dari 20 tahun yang lalu...

  • My Bike My Pride

    Riding a motorcycle can be a great hobby for me. It can provide a sense of freedom and adventure, as well as an opportunity to enjoy the outdoors and explore new places...

19 February 2026

Puasa Ramadhan: Sebuah Ritus Sunyi dalam Kalender Jiwa

aLamathuR.com - Setiap tahun, ketika bulan sabit menampakkan dirinya seperti senyum tipis di ufuk barat, umat Islam memasuki sebuah masa yang tidak sekadar ritual, melainkan laku batin. Ramadan hadir bukan hanya sebagai penanda waktu, tetapi sebagai jeda kosmis—ruang hening tempat manusia menata ulang denyut eksistensinya.

Puasa, dalam khazanah spiritual, adalah bentuk tazkiyatun nafs—proses purifikasi jiwa yang nyaris asketis. Tubuh memang menahan lapar dan dahaga, tetapi yang sesungguhnya diuji adalah turbulensi hasrat: amarah yang mudah meletup, kata-kata yang nyaris tergelincir, serta pikiran yang gemar berkelana tanpa kendali. Dalam puasa, manusia berlatih menjadi insan kamil versi dirinya yang paling jernih.

Di siang hari, waktu terasa melambat, seolah jarum jam pun ikut berpuasa dari ketergesaan. Perut mungkin bergejolak, tetapi di sanalah letak pedagogi sunyi itu. Lapar menjelma semacam epifani; ia mengajarkan empati tanpa perlu retorika. Kita merasakan fragilitas, menyadari betapa tubuh ini fana dan bergantung.

Menjelang magrib, atmosfer berubah menjadi lebih kontemplatif. Aroma hidangan yang semerbak seakan menjadi metafora tentang harapan yang tak pernah padam. Saat azan berkumandang, bukan sekadar dahaga yang dituntaskan, melainkan juga sebuah ikrar kecil: bahwa esok hari kita akan kembali menempuh disiplin ini dengan kesadaran yang lebih matang.

Malam-malam Ramadhan memiliki aura yang berbeda. Ada vibrasi khusyuk ketika lantunan ayat-ayat suci menggema di ruang-ruang ibadah. Doa-doa meluncur seperti meteor kecil, membawa aspirasi, penyesalan, dan harapan. Dalam lanskap spiritual ini, manusia berdamai dengan dirinya sendiri—mengakui kekhilafan tanpa kehilangan optimisme.

Puasa Ramadhan pada akhirnya adalah dialog antara tubuh dan ruh. Ia bukan sekadar kewajiban normatif, melainkan momentum transformatif. Sebuah latihan menunda, menimbang, dan mengendapkan. Di sanalah kita belajar bahwa kekuatan sejati bukan pada kemampuan memiliki, melainkan pada kesanggupan menahan.

Dan ketika bulan itu berlalu, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang sahur dan berbuka, melainkan residu kebajikan—sebuah sensibilitas baru terhadap hidup. Sebab Ramadhan selalu datang sebagai tamu agung, dan pergi meninggalkan kita dengan pertanyaan lirih: sudahkah kita menjadi lebih manusia?



07 January 2026

Hoaks di Era AI: Ketika Literasi Digital Jadi Kebutuhan Moral

aLamathuR.com - Ruang digital hari ini bergerak semakin cepat. Jika sebelumnya informasi berpindah dengan kecepatan jempol, kini ia dipercepat oleh kecerdasan buatan. Tulisan, gambar, suara, bahkan video dapat diciptakan dalam hitungan detik, tampak meyakinkan, dan siap beredar tanpa jejak asal-usul yang jelas. Di titik inilah hoaks menemukan wajah barunya.

Kemunculan AI tidak serta-merta melahirkan hoaks, tetapi ia memperluas kemungkinan. Yang dulu memerlukan keahlian teknis kini dapat dilakukan siapa saja. Narasi palsu bisa ditulis dengan bahasa rapi, data bisa dipelintir secara halus, dan visual dapat dimanipulasi tanpa terlihat janggal. Bagi netizen yang terbiasa bereaksi cepat, perbedaan antara fakta dan fabrikasi menjadi semakin kabur.

Masalah utamanya bukan pada teknologi, melainkan pada cara kita menyikapinya. Budaya digital yang reaktif—mudah terpancing, cepat menyimpulkan, dan gemar membagikan—bertemu dengan AI yang mampu memproduksi konten dalam skala masif. Pertemuan ini menciptakan ekosistem yang rawan: informasi berlipat ganda, sementara kehati-hatian justru tertinggal.

Dalam konteks ini, literasi digital tidak lagi cukup dipahami sebagai kemampuan membaca sumber atau mengenali hoaks secara teknis. Ia harus naik tingkat menjadi kesadaran etis. Literasi digital menuntut kita untuk bertanya lebih jauh: siapa yang membuat konten ini, dengan tujuan apa, dan dampak apa yang mungkin ditimbulkannya jika disebarkan. Di era AI, pertanyaan-pertanyaan ini menjadi semakin penting.

Menulis dan membagikan informasi di tengah kemajuan AI berarti menerima kenyataan bahwa apa yang kita unggah bisa saja dipercaya sebagai kebenaran. Ketika konten buatan AI disebarkan tanpa konteks, ia berpotensi membentuk opini publik yang rapuh. Di sinilah tanggung jawab individu diuji. Kebebasan berekspresi tetap relevan, tetapi tanpa literasi digital yang memadai, kebebasan itu mudah berubah menjadi alat reproduksi kesalahan.

Hoaks di era AI sering kali tidak hadir sebagai kebohongan kasar, melainkan sebagai cerita yang “masuk akal”. Ia rapi, sistematis, dan emosional. Karena itu, melawannya tidak cukup dengan klarifikasi semata. Yang dibutuhkan adalah kebiasaan kolektif untuk melambat—membaca lebih utuh, memeriksa lebih dalam, dan menunda reaksi.

Pada akhirnya, kemunculan AI seharusnya menjadi cermin bagi cara kita berinteraksi dengan informasi. Teknologi akan terus berkembang, tetapi nalar dan etika manusialah yang menentukan arah. Literasi digital, dalam konteks ini, bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan moral. Sebab di tengah banjir informasi buatan mesin, hanya kesadaran manusialah yang dapat menjaga ruang publik tetap waras.



09 December 2025

Luka yang Mengajarkan Kita untuk Saling Menguatkan

aLamathuR.com - Desember 2025 kembali membawa kabar duka bagi Aceh dan sebagian wilayah Sumatera. Hujan yang tak henti, angin yang tak bersahabat, dan tanah yang rapuh membuat banyak rumah luluh lantak. Di balik gemuruh air dan getaran bumi, tersisa suara-suara lirih yang memanggil, berharap ada tangan yang datang menyelamatkan. Bencana itu tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga merobek ketenangan hati banyak keluarga.

Namun, di tengah kesedihan itu, selalu ada cahaya kecil yang tetap menyala. Warga saling membantu tanpa banyak bicara. Mereka berbagi makanan seadanya, memindahkan batu dan kayu dengan kekuatan yang tersisa. Di antara lumpur, tangis, dan udara lembap, tumbuh rasa kebersamaan yang jarang muncul pada hari-hari biasa. Seakan bencana mengingatkan kita bahwa manusia diciptakan untuk saling menguatkan.

Di lokasi pengungsian, anak-anak duduk berdekatan sambil memeluk lutut mereka. Mata mereka mencari ketenangan, namun tetap memancarkan harapan. Para ibu memandang langit yang suram sambil berdoa agar hari esok lebih bersahabat. Para relawan datang membawa logistik dan pelukan hangat. Semuanya berjalan pelan, namun pasti, seperti langkah pertama setelah terjatuh.

Desember kali ini mungkin meninggalkan luka yang dalam, tetapi setiap luka akan membawa kisah tentang ketabahan. Aceh dan Sumatera sudah berkali-kali diuji, namun tidak pernah berhenti bangkit. Air boleh merendam tanah, angin boleh merobohkan dinding, tapi semangat orang-orang di sana tetap tumbuh dan menjaga mereka tetap berdiri. Dari bencana ini, kita semua belajar bahwa kekuatan terbesar adalah kebersamaan—dan harapan selalu menemukan jalannya kembali.



10 October 2025

Saatnya Milenial Reboot Prioritas Mental

aLamathuR.com - Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, yang kita peringati setiap 10 Oktober, adalah pengingat fundamental bagi kita para Milenial. Kita sering terjebak dalam etika kerja keras (hustle culture), yang membuat tuntutan finansial, karier, dan social pressure terasa begitu berat. Dulu kita fokus multitasking untuk mencapai kesuksesan, namun kini kita menyadari bahwa kesejahteraan mental adalah fondasi dari semua pencapaian. Riset terbaru menunjukkan bahwa meskipun kita mulai terbuka terhadap isu ini, kita tetap rentan terhadap peningkatan stres dan kecemasan, yang dipicu oleh perbandingan sosial dan tuntutan kinerja optimal. Oleh karena itu, momen ini harus menjadi titik balik untuk memvalidasi bahwa kesehatan mental kita adalah investasi paling berharga.


Batas yang Jelas: Kunci Keseimbangan di Lingkungan Profesional

Di momentum Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini, mari kita fokus pada lingkungan kerja—area yang paling banyak menguras energi kita. Seringkali, keseimbangan kerja dan hidup (work-life balance) terasa sulit dicapai karena minimnya batas tegas. Tidak ada yang salah dengan menolak merespons urusan kantor di luar jam kerja atau memanfaatkan hak cuti untuk recharge. Kesehatan mental tidak dapat ditoleransi oleh kelelahan. Kita perlu mengakui bahwa lingkungan kerja yang tidak sehat dapat merusak, dan bahwa mempertahankan batas diri adalah bagian dari integritas profesional kita, bukan suatu kelemahan.


Investasi Jangka Panjang: Jadilah Sistem Pendukung yang Tulus

Sebagai penutup di Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini, aksi nyata harus menggantikan kutipan inspiratif semata. Proses penyembuhan (healing) adalah komitmen jangka panjang. Mulailah dengan mengakui kelelahan dan menetapkan prioritas diri. Lebih dari itu, kita memiliki tanggung jawab komunal. Jadilah sistem pendukung yang tulus bagi rekan kerja atau kerabat yang sedang berjuang; tawarkan ruang aman alih-alih nasihat klise. Ingat, kita tidak perlu menjadi figur sempurna yang serba bisa. Kita hanya perlu menjadi individu yang sehat secara mental dan saling mendukung.

Apakah Anda siap menjadikan kesejahteraan mental sebagai prioritas utama mulai hari ini?


**artikel ini ditulis dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh di setiap tanggal 10 Oktober.



20 September 2025

Resiliensi: Kekuatan Mental dari Rakyat Ekonomi Lemah

aLamathuR.com - Pernahkah kamu berpikir, di balik senyum dan tawa yang kita lihat setiap hari, ada banyak orang di Indonesia yang berjuang keras hanya untuk bertahan hidup? Mereka adalah rakyat dengan golongan ekonomi lemah—istilah yang mungkin terdengar formal, tapi merujuk pada mereka yang hidup dengan penghasilan terbatas dan penuh keterbatasan. Bagi kita yang hidup dalam kenyamanan, mungkin sulit membayangkan bagaimana mereka menemukan makna hidup. Namun, dari perspektif psikologis, justru dalam keterbatasan inilah arti hidup bisa ditemukan dan diperjuangkan dengan cara yang luar biasa.

Fenomena ini sejalan dengan konsep psikologi positif yang menekankan pada kekuatan dan resiliensi manusia. Salah satu teorinya, yaitu Teori Logoterapi dari Viktor Frankl, menyebutkan bahwa manusia dapat menemukan makna hidup bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun. Frankl sendiri menemukan hal ini saat menjadi tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Bagi rakyat dengan ekonomi lemah di Indonesia, makna hidup sering kali tidak dicari dalam pencapaian material, melainkan dalam hal-hal fundamental: menjaga keluarga, mengusahakan pendidikan untuk anak-anak, atau membangun solidaritas dengan sesama. Mereka berpegang pada harapan bahwa esok akan lebih baik, dan perjuangan mereka hari ini adalah jembatan menuju masa depan yang lebih cerah bagi keturunan mereka.

Penelitian psikologi terbaru di Indonesia turut menguatkan hal ini. Sebuah studi dari Jurnal Psikologi Sosial Universitas Indonesia yang diterbitkan pada awal tahun 2025 menunjukkan bahwa individu dari kelompok ekonomi marginal memiliki resiliensi yang luar biasa. Riset ini menyebutkan bahwa meskipun menghadapi tantangan berat, mereka mengembangkan strategi koping berbasis komunitas dan nilai-nilai spiritual yang kuat. Mereka tidak menyerah pada keadaan, melainkan menganggap kesulitan sebagai bagian dari proses untuk menjadi lebih tangguh. Pola pikir ini, yang dikenal sebagai post-traumatic growth, menunjukkan bahwa setelah mengalami trauma atau kesulitan, seseorang bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih berempati, dan lebih menghargai hidup.

Namun, bukan berarti hidup mereka tanpa beban. Beban psikologis seperti stres kronis, kecemasan, dan depresi tetap menjadi ancaman nyata. Keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental sering kali membuat mereka harus berjuang sendirian. Oleh karena itu, peran komunitas dan dukungan sosial menjadi sangat krusial. Dalam konteks ini, psikologi komunitas melihat bahwa solusi tidak hanya terletak pada individu, tetapi juga pada penguatan struktur sosial yang mendukung mereka. Ketika sebuah komunitas bergerak bersama, saling membantu dan menguatkan, beban berat akan terasa lebih ringan dan harapan untuk bangkit menjadi lebih nyata.

Pada akhirnya, kisah perjuangan rakyat dengan golongan ekonomi lemah di Indonesia adalah sebuah cerminan tentang makna hidup yang sesungguhnya. Itu adalah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada harta benda, melainkan pada kemampuan untuk menemukan tujuan, menguatkan hubungan dengan orang lain, dan berjuang demi sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Kesadaran ini bukan hanya penting bagi mereka, tetapi juga bagi kita semua. Ini adalah pelajaran berharga tentang resiliensi, harapan, dan kemanusiaan yang bisa menginspirasi kita untuk lebih bersyukur dan peduli pada kondisi sekitar.