• Narsis Tidak Dilarang

    Para ahli memperkiraan bahwa hanya ada 5% orang yang memiliki NPD. Dikutip dari Psych Central, laki-laki memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami NPD dibanding perempuan...

  • Cerita Hileud Jepang

    Semuanya bermula dari 20 tahun yang lalu...

30 July 2026

Berjalan Tanpa Arah, Berlari Demi Target

aLamathuR.com - Ada hari hari ketika pekerjaan terasa seperti berjalan di sebuah bundaran yang tak memiliki papan penunjuk arah. Langkah kaki terus dipercepat, debu terus beterbangan, tetapi tujuan seolah bergeser setiap kali hampir terlihat. Semua orang bergerak. Semua orang sibuk. Namun kesibukan itu lebih menyerupai pusaran daripada perjalanan.

Konsep lahir setengah jadi, lalu dipaksa berlari sebelum sempat belajar berjalan. Rencana belum selesai dipahat, tetapi tuntutan telah mengetuk pintu lebih dahulu. Satu pekerjaan belum benar benar berlabuh, pekerjaan lain sudah meminta untuk dinaiki. Alur yang semestinya menjadi sungai justru berubah menjadi labirin, membuat siapa pun yang melintasinya lebih banyak mencari jalan daripada mencapai tujuan.


Ketika Gerak Menjadi Pembenaran

Di tengah semua itu, selalu ada kalimat yang terdengar gagah, "Yang penting kita terus bergerak maju." Kalimat itu menjadi layar yang menutupi kegelisahan, seolah gerak adalah jawaban atas segala persoalan. Target yang semakin tinggi dijadikan alasan untuk terus melaju, meski arah belum benar benar dipastikan.

Padahal, tidak setiap langkah membawa kita mendekat. Ada langkah yang hanya mengitari tempat yang sama, meninggalkan jejak yang semakin dalam tanpa pernah benar benar berpindah. Kesibukan akhirnya menjadi ukuran, sementara kejelasan perlahan kehilangan tempatnya. Kita sibuk mengejar waktu, tetapi lupa memastikan apakah waktu itu membawa kita menuju tujuan yang sama.


Arah Lebih Penting daripada Kecepatan

Target memang menjulang semakin tinggi, seperti puncak gunung yang terus diselimuti kabut. Namun gunung tidak ditaklukkan dengan berlari membabi buta. Ia didaki dengan peta, dengan ritme, dan dengan keyakinan bahwa setiap pijakan memiliki arah. Sebab secepat apa pun seseorang berlari di jalan yang keliru, ia hanya akan semakin jauh dari tujuan.

Barangkali yang dibutuhkan bukan sekadar keberanian untuk terus bergerak, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak. Menyusun kembali arah, merapikan alur, dan memastikan setiap langkah memiliki makna. Sebab kemajuan yang sesungguhnya bukan lahir dari gerak yang dipaksakan, melainkan dari langkah yang selaras antara tujuan, konsep, dan cara mencapainya.

Pada akhirnya, pekerjaan bukanlah perlombaan mengalahkan waktu, melainkan perjalanan mengantarkan gagasan menjadi kenyataan. Dan setiap perjalanan yang layak dikenang selalu dimulai dari satu hal yang sederhana: mengetahui ke mana kita hendak melangkah.



15 July 2026

Asal Bapak Senang

aLamathuR.com - Ada sebuah kebiasaan yang usianya mungkin lebih tua daripada mesin absensi sidik jari. Namanya sederhana, bahkan terdengar akrab: Asal Bapak Senang.

Ia tidak pernah benar-benar pensiun. Hanya berganti pakaian mengikuti zaman.

Dulu ia tinggal di balik map berwarna cokelat, ditemani laporan yang harum tinta printer. Kini ia berpindah ke layar monitor, bersembunyi di balik grafik yang dibuat lebih menanjak, foto kegiatan yang dipilih paling ramai, dan kalimat-kalimat yang dirapikan agar terdengar meyakinkan.

Di ruang rapat, semua tampak baik. Target seolah tercapai. Masalah tinggal cerita kecil. Semua mengangguk, semua tersenyum. Padahal, di sudut lain, pekerjaan masih mengejar napas, pelanggan masih menunggu jawaban, dan kenyataan sedang mengetuk pintu pelan-pelan.

Budaya ini memang pandai berdandan. Ia membuat yang biasa terlihat luar biasa, yang terlambat tampak tepat waktu, dan yang belum selesai terasa seolah sudah tuntas. Ia tidak selalu lahir dari niat buruk. Kadang ia tumbuh dari rasa takut. Takut mengecewakan, takut dimarahi, takut dianggap tidak becus.

Padahal, kenyataan tak pernah bisa disolek selamanya. Angka bisa dipoles, kata-kata bisa dipilih, tetapi hasil akan tetap menemukan jalannya sendiri. Seperti embun yang akhirnya jatuh, atau hujan yang tak bisa terus ditahan langit.

Barangkali yang dibutuhkan hari ini bukan lebih banyak pujian, melainkan lebih banyak keberanian. Keberanian berkata, "Masih ada yang harus diperbaiki." Keberanian mengakui bahwa jalan belum sampai di tujuan. Sebab organisasi yang besar tidak dibangun oleh kabar yang selalu menyenangkan, melainkan oleh orang-orang yang berani menyampaikan kenyataan.

Karena seorang pemimpin sejatinya tidak memerlukan cermin yang hanya memantulkan wajah terbaiknya. Ia memerlukan jendela, tempat ia bisa melihat dunia apa adanya.

Dan ketika kejujuran mulai lebih dihargai daripada kepura-puraan, mungkin saat itulah budaya lama itu perlahan kehilangan tempatnya.

Asal bapak senang memang membuat hari terasa tenang.

Tetapi asal pekerjaan beres, semua oranglah yang akhirnya merasa senang.



06 July 2026

Monster Itu Bernama Erling Braut Haaland

aLamathuR.com - Brasil datang membawa sejarah. Lima bintang di dada, jutaan doa di pundak. Mereka mengira malam akan tunduk pada nama besar. Namun sepak bola tak pernah benar-benar mengenal silsilah.

Di ujung utara Eropa, lahirlah seorang pemburu. Ia tak banyak bicara, sebab kakinya telah fasih menulis cerita. Ketika peluit berbunyi, rumput berubah menjadi hutan, dan Brasil mendadak menjadi mangsa.

Monster itu bernama Erling Braut Haaland.

Sementara itu, Vinícius Jr. yang biasanya menari di sisi lapangan, seolah kehilangan panggung. Dribelnya tak lagi menakutkan, kecepatannya tak lagi menggetarkan. Malam itu, ia lebih sering menjadi bayangan daripada ancaman. Meski sempat menciptakan beberapa peluang, sinarnya tak pernah benar-benar menyala.

Dua sentuhan Haaland merobek harapan. Dua golnya memadamkan samba. Bahkan air mata Neymar tak mampu mengubah akhir kisah.

Malam itu, dunia kembali diingatkan: legenda memang bisa diwariskan, tetapi kemenangan hanya berpihak pada mereka yang paling lapar.

Dan di Piala Dunia 2026, monster itu mengenakan seragam merah Norwegia.



TVRI, Iklan, dan Piala Dunia

aLamathuR.com - Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika Piala Dunia 2026 hadir di layar televisi Indonesia. Bukan karena rumput stadion di Amerika Utara tampak lebih hijau, bukan pula karena jumlah peserta bertambah menjadi 48 negara. Perbedaannya justru terasa dari ruang tamu penonton Indonesia. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, banyak orang menyaksikan pertandingan tanpa dihujani rentetan sponsor yang seolah berebut perhatian dengan sepak bola itu sendiri. Di balik layar, perubahan itu berawal dari satu hal sederhana: hak siar televisi terestrial gratis berada di tangan TVRI, lembaga penyiaran publik.

Selama bertahun-tahun, publik Indonesia terbiasa menikmati Piala Dunia melalui televisi swasta. Pengalaman menontonnya nyaris memiliki pola yang sama. Beberapa menit sebelum kick-off, layar dipenuhi logo sponsor. Susunan pemain "dipersembahkan oleh" sebuah merek. Statistik pertandingan memiliki sponsor lain. Tayangan ulang gol pun tak luput dari identitas komersial. Ketika peluit babak pertama berakhir, jeda turun minum berubah menjadi parade iklan yang kadang terasa lebih panjang daripada analisis pertandingan. Lama-kelamaan, penonton pun menerima semua itu sebagai sesuatu yang wajar.


Sepak Bola atau Etalase Iklan?

Padahal, jika dipikirkan kembali, fenomena tersebut cukup unik. Piala Dunia adalah ajang olahraga, tetapi dalam praktik penyiaran televisi ia sering menjelma menjadi etalase pemasaran terbesar yang dimiliki industri media. Setiap detik siaran memiliki harga. Setiap sudut layar adalah ruang yang dapat dijual. Bahkan setiap momen emosional—gol, penyelamatan gemilang, hingga penghargaan pemain terbaik—berpotensi menjadi medium promosi sebuah merek.

Logikanya mudah dipahami. Televisi swasta hidup dari iklan. Semakin tinggi jumlah penonton, semakin mahal tarif yang dapat dipasang. Dan tidak ada banyak program yang mampu menyatukan jutaan penonton Indonesia secara bersamaan seperti Piala Dunia. Dari sudut pandang bisnis, akan terasa hampir "berdosa" jika kesempatan sebesar itu tidak dimonetisasi semaksimal mungkin.

Fenomena inilah yang kemudian melahirkan tradisi lain yang selalu menjadi bahan candaan di media sosial. Setiap Piala Dunia berlangsung, bermunculan merek-merek yang sebelumnya nyaris tak dikenal publik. Ada aplikasi finansial baru, produk kesehatan, kosmetik, platform investasi, hingga berbagai jenama lokal yang mendadak hadir di sela-sela pertandingan paling bergengsi di dunia. Netizen menyebutnya "brand antah-berantah". Julukan yang terdengar jenaka, tetapi sesungguhnya menggambarkan betapa besarnya daya tarik ekonomi yang dimiliki sebuah turnamen sepak bola.


Ketika TVRI Mengubah Ritme Menonton

Karena itu, saat TVRI mengambil alih hak siar, banyak penonton merasa ada suasana yang berubah. Tayangan menjadi lebih lengang. Sponsor tetap hadir, tetapi tidak mendominasi. Grafis pertandingan tidak dipenuhi identitas merek. Transisi menuju pertandingan terasa lebih singkat. Fokus kamera, komentar, dan perhatian penonton kembali diarahkan ke lapangan hijau, bukan ke layar yang dipenuhi berbagai logo komersial.

Menariknya, pengalaman seperti ini justru membuat sebagian penonton menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatian. Ternyata menonton sepak bola tanpa jeda promosi yang berlebihan memberikan sensasi yang berbeda. Ritme pertandingan terasa lebih utuh. Emosi penonton tidak terus-menerus dipotong oleh ajakan membeli produk, mengunduh aplikasi, atau mengikuti promosi tertentu. Sepak bola kembali menjadi pusat cerita.

Bukan berarti TVRI steril dari iklan. Sebagai lembaga penyiaran publik, TVRI tetap memiliki ruang kerja sama komersial sesuai ketentuan yang berlaku. Namun intensitasnya jauh lebih terbatas dibanding televisi swasta yang memang menjadikan iklan sebagai sumber utama pendapatan. Perbedaan ini bukan sekadar persoalan jumlah sponsor, melainkan cerminan dua filosofi penyiaran yang berbeda.


Harga dari Siaran yang Lebih Bersih

Tentu saja, pengalaman menonton yang lebih nyaman tidak datang tanpa konsekuensi. Hak siar Piala Dunia adalah salah satu aset paling mahal dalam industri penyiaran global. Televisi swasta biasanya menutup investasi tersebut melalui penjualan slot iklan, paket sponsor, integrasi merek, hingga berbagai aktivasi komersial lainnya. Semakin banyak ruang yang dapat dijual, semakin besar peluang untuk mengembalikan biaya hak siar.

Sebaliknya, TVRI tidak memiliki keleluasaan yang sama. Sebagai penyiar publik, orientasinya tidak semata-mata mengejar keuntungan. Akibatnya, ruang monetisasi menjadi lebih terbatas sehingga efisiensi produksi, dukungan negara, dan kerja sama resmi menjadi faktor yang jauh lebih penting. Dengan kata lain, siaran yang terasa lebih "bersih" sesungguhnya memiliki biaya yang tidak kecil—hanya saja cara membayarnya berbeda.
Pelajaran dari Piala Dunia

Perdebatan mengenai TVRI dan televisi swasta sebenarnya bukanlah soal siapa yang lebih unggul. Televisi swasta menawarkan produksi yang lebih megah, studio yang lebih atraktif, teknologi yang lebih kaya, serta kemampuan menghadirkan berbagai aktivasi sponsor yang kreatif. Semua itu adalah konsekuensi dari model bisnis yang memang bergantung pada pendapatan iklan.

Sebaliknya, TVRI menghadirkan pengingat bahwa pertandingan olahraga tidak selalu harus menjadi arena komersialisasi yang agresif. Ada ruang di mana penonton cukup disuguhi sepak bola tanpa terus-menerus diingatkan bahwa setiap gol, setiap statistik, bahkan setiap jeda memiliki sponsor.




Mungkin inilah pelajaran paling menarik dari Piala Dunia 2026. Terkadang kita baru menyadari betapa bisingnya sebuah siaran ketika kebisingan itu tiba-tiba menghilang. Dan ketika logo-logo sponsor tak lagi berebut perhatian di setiap sudut layar, kita kembali mengingat alasan pertama mengapa duduk di depan televisi: bukan untuk menonton iklan, melainkan untuk menikmati sepak bola.



22 June 2026

Ketika Lampu Padam, Pertanyaan Menyala

aLamathuR.com - Malam turun seperti biasa. Namun kali ini, lampu-lampu ikut beristirahat. Rumah menjadi lebih sunyi, kipas berhenti berputar, dan layar ponsel perlahan mengingatkan bahwa baterai pun punya batas kesabaran.

Di tengah gelap, muncul pertanyaan yang sering beredar dari warung kopi hingga grup WhatsApp: apakah listrik padam karena batu bara lebih memilih berlayar ke negeri seberang demi harga yang lebih tinggi? Ataukah ini sekadar cerita lama tentang mesin-mesin pembangkit yang lelah bekerja tanpa henti?

Barangkali jawabannya tidak sesederhana memilih satu di antara keduanya. Sistem kelistrikan adalah rangkaian panjang yang saling bergantung. Batu bara memang menjadi darah bagi banyak pembangkit. Jika pasokannya terganggu, pembangkit bisa tersendat. Namun bahkan ketika bahan bakar tersedia, gangguan teknis, perawatan peralatan, cuaca, hingga kerusakan jaringan transmisi tetap bisa membuat lampu-lampu padam seketika.

Seperti sebuah orkestra besar, listrik tidak hanya bergantung pada pemain biola atau pemain drum. Satu nada yang meleset saja dapat membuat seluruh pertunjukan terhenti.

Maka ketika pemadaman bergilir datang, sering kali yang terlihat hanyalah gelapnya ruangan. Sementara di baliknya, ada cerita tentang tambang, pelabuhan, pembangkit, gardu induk, kabel transmisi, hingga keputusan-keputusan yang dibuat jauh dari rumah-rumah yang menunggu lampu kembali menyala.

Dan seperti biasa, warga hanya bisa menyalakan lilin, menyeruput kopi yang mulai dingin, lalu berharap bahwa penyebabnya—apa pun itu—segera menemukan jalan pulang menuju terang.