• Narsis Tidak Dilarang

    Para ahli memperkiraan bahwa hanya ada 5% orang yang memiliki NPD. Dikutip dari Psych Central, laki-laki memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami NPD dibanding perempuan...

  • Cerita Hileud Jepang

    Semuanya bermula dari 20 tahun yang lalu...

  • My Bike My Pride

    Riding a motorcycle can be a great hobby for me. It can provide a sense of freedom and adventure, as well as an opportunity to enjoy the outdoors and explore new places...

29 August 2025

Di Simpang Jalan Suara dan Keteraturan

aLamathuR.com - Demonstrasi, atau riuhnya suara yang tumpah ke jalan, adalah denyut nadi dari sebuah zaman. Ia adalah hakikat kebebasan yang mengalir dalam nadi demokrasi, di mana setiap jiwa berhak menumpahkan keluh kesah, aspirasi, dan amarahnya. Ketika kata-kata tak lagi berdaya di mimbar-mimbar resmi, jalanan menjadi panggung bagi lakon perjuangan, tempat di mana rakyat bersuara serempak, menuntut perubahan yang telah lama dinanti. Namun, di tengah gemuruh itu, muncullah pertanyaan yang menggantung: perlukah kita membiarkan sungai suara ini mengalir hingga mengganggu alur kehidupan kota yang telah tertata?

Ada kalanya, nurani kolektif menuntut untuk disuarakan secara nyata. Dalam sejarah peradaban, banyak kisah gemilang lahir dari debu jalanan yang diinjak ribuan pasang kaki. Mereka adalah pemecah kebekuan, pembuka tabir keadilan yang tertutup rapat, dan penjaga janji-janji yang telah usang. Turun ke jalan bukan sekadar aksi fisik, melainkan sebuah ritual pemberontakan yang bermartabat, sebuah deklarasi bahwa kesabaran telah habis dan bahwa perubahan harus terjadi, detik ini juga. Itulah mengapa, seringkali demonstrasi menjadi senjata terakhir, sebuah seruan yang tak bisa lagi dibungkam.

Namun, setiap pergerakan punya bayangannya sendiri. Di balik idealisme yang membakar, ada realitas keras yang tak bisa dihindari: jalanan yang tersumbat, deru klakson yang tak sabar, dan terhentinya denyut ekonomi. Bagi sebagian orang, ia adalah interupsi yang tak termaafkan; sebuah pengorbanan yang terlalu mahal untuk dibayar, di mana hak untuk berpendapat seolah meniadakan hak untuk beraktivitas. Di persimpangan ini, terbentang dilema antara idealisme dan pragmatisme, antara gema suara rakyat dan keheningan ketertiban yang dirindukan.

Maka, jalan tengah adalah jembatan yang harus kita bangun bersama. Bukan dengan memadamkan api aspirasi, melainkan dengan mengarahkannya agar cahayanya tak membakar seisi kota. Demonstrasi bisa tetap menjadi seruan yang kuat tanpa harus menjadi badai yang merusak. Dengan memilih rute yang bijaksana, dengan menjaga ketertiban yang lahir dari kesadaran, dan dengan komunikasi yang tulus antara penguasa dan yang dikuasai, kita bisa menemukan harmoni. Bahwa suara-suara di jalan tak harus menjadi kekacauan, melainkan sebuah simfoni yang mengiringi langkah menuju perubahan yang lebih baik, tanpa harus merugikan siapapun.



Refleksi Diri di Tengah Hiruk Pikuk: Mengapa Kita Rentan Terbawa Arus?

aLamathuR.com - Setiap hari, kita disuguhi rentetan berita politik dan kekacauan sosial yang membanjiri lini masa. Dari perdebatan sengit di media sosial hingga narasi yang saling bertentangan, semua informasi ini datang begitu cepat, mengancam kestabilan emosi kita. Di tengah hiruk pikuk ini, penting bagi masyarakat Indonesia untuk berhenti sejenak dan melakukan refleksi diri. Mengapa kita begitu mudah terombang-ambing oleh berita? Mengapa kemarahan dan kecemasan sering kali menjadi respons pertama?


Ketika Otak Mengambil Alih: Respon Emosional vs. Rasional

Secara psikologis, otak kita memiliki dua sistem utama: sistem limbik yang bertanggung jawab atas emosi dan reaksi cepat (sering disebut sebagai "otak reptil") dan korteks prefrontal yang mengatur pemikiran rasional, analisis, dan pengambilan keputusan. Saat kita terpapar berita provokatif atau narasi yang memicu amarah, sistem limbik kita langsung bereaksi. Kita merasa perlu membela "pihak kita" atau menyerang "pihak lawan". Ini adalah mekanisme bertahan hidup yang kuno, namun sering kali tidak relevan dalam konteks modern.

Tanpa disadari, kita terjebak dalam spiral reaktif. Kita bereaksi tanpa berpikir, membagikan konten yang emosional, dan terlibat dalam perdebatan tanpa data yang valid. Kita lupa bahwa ada jeda antara stimulus dan respons. Jeda inilah yang memberi kita kesempatan untuk menggunakan korteks prefrontal. Dengan melatih jeda ini, kita dapat memilih untuk merespons dengan tenang, alih-alih bereaksi secara impulsif.


Mengembangkan "Mental Hygiene" di Era Digital

Sama seperti kita menjaga kebersihan fisik, kita juga perlu menjaga kesehatan mental di dunia digital. Caranya adalah dengan menerapkan "mental hygiene" yang ketat. Pertama, batasi konsumsi berita; tidak semua yang viral perlu kita ketahui saat itu juga. Kedua, verifikasi informasi sebelum membagikannya. Tanyakan pada diri sendiri, "Apakah berita ini valid? Apakah sumbernya terpercaya?" Terakhir, dan yang paling penting, kembali ke diri sendiri.

Tanyakan pada diri Anda: "Apakah respons ini datang dari ketenangan atau amarah? Apakah ini benar-benar penting bagi saya secara pribadi?" Dengan melatih kesadaran diri ini, kita bisa menciptakan ruang pribadi yang damai, di mana emosi tidak lagi dikendalikan oleh algoritma atau narasi orang lain. Ini adalah langkah kecil namun krusial untuk menjaga kedamaian batin di tengah badai informasi. Bukankah lebih baik menjadi bagian dari solusi yang tenang daripada terjebak dalam kekacauan yang bising?



28 August 2025

Rokok dan Kopi

aLamathuR.com - Dalam keriuhan dunia Gen Z, di mana tren berkelebat secepat unggahan media sosial, ada dua elemen klasik yang tetap bertahan: rokok dan kopi. Bukan lagi sekadar kebiasaan orang tua, kini keduanya bertransformasi menjadi bagian dari identitas, bahkan gaya hidup. Namun, di antara kepulan asap dan aroma seduhan, tersembunyi perdebatan yang tak kasat mata. Kopi, dengan segala pesona kafeinnya, sering kali dianggap sebagai sahabat produktivitas, pemicu ide-ide cemerlang yang mengalir deras di kedai kopi estetik. Sementara rokok, meski disadari bahayanya, masih saja menggoda sebagian, mungkin sebagai penanda pemberontakan, atau sekadar ritual di sela-sela kepadatan jadwal.

Namun, di balik narasi romantisasi tersebut, sains berbicara. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Psychological Reports (2018) oleh Zhang dan rekan-rekan menunjukkan bahwa konsumsi kafein moderat dapat meningkatkan fokus dan mengurangi kelelahan, sangat relevan bagi Gen Z yang sering dituntut multitasking. Kopi seolah menjadi bahan bakar bagi kreativitas digital dan ritme kerja non-stop. Sebaliknya, rokok, dengan kandungan nikotinnya, memang dapat memberikan efek stimulasi sesaat, namun penelitian lain dari Nicotine & Tobacco Research (2020) menyoroti risiko adiksi yang tinggi dan dampak negatif jangka panjang pada kesehatan mental serta fisik, termasuk peningkatan risiko depresi dan kecemasan, yang ironisnya seringkali justru ingin dihindari oleh Gen Z.

Di Bandung, misalnya, pemandangan anak muda memegang secangkir kopi dengan laptop terbuka adalah hal lumrah. Mereka merayakan kopi sebagai inspirasi, jembatan diskusi, bahkan pelengkap swafoto estetik. Kopi menjadi simbol inklusi, bagian dari komunitas yang menghargai pengalaman dan cerita. Namun, tak jauh dari sana, mungkin ada sudut tersembunyi di mana asap rokok mengepul, mengukir momen sunyi di tengah bisingnya ekspektasi. Rokok, bagi sebagian, mungkin menjadi pelarian singkat dari tekanan, sebuah ritual personal yang menegaskan eksistensi di antara keramaian dunia maya.

Pada akhirnya, pilihan kembali pada individu Gen Z itu sendiri. Apakah mereka akan membiarkan diri terbuai oleh ilusi kenikmatan sesaat yang ditawarkan rokok, atau memilih jalur kopi yang, meski juga memiliki efek samping jika berlebihan, setidaknya menawarkan narasi yang lebih positif dan didukung oleh bukti ilmiah yang lebih kuat untuk meningkatkan kualitas hidup? Keputusan ini bukan hanya soal selera, melainkan juga tentang pemahaman diri dan keberanian untuk memilih yang terbaik bagi kesehatan jiwa dan raga di tengah pusaran zaman.



Dampak Psikologis Judi Online: Mengapa Sangat Berbahaya?


aLamathuR.com - Judi online semakin marak, menjebak banyak orang dalam cengkeraman adiksi. Dilihat dari kacamata psikologi, fenomena ini tidak sekadar hobi atau hiburan, melainkan sebuah perilaku yang berpotensi merusak mental secara fundamental. Berikut adalah beberapa bahaya psikologis judi online yang perlu Anda waspadai.



Jebakan Disonansi Kognitif: Perang Batin Antara Keinginan dan Kenyataan

Saat seseorang mulai berjudi online, ia sering kali terjebak dalam disonansi kognitif. Ini adalah ketidaknyamanan mental yang timbul ketika keyakinan atau nilai diri bertentangan dengan tindakan yang dilakukan. Seseorang mungkin tahu bahwa judi itu merugikan, tetapi pada saat yang sama, ia merasakan sensasi kenikmatan dari adrenalin saat bertaruh.

Awalnya, pemain mungkin hanya ingin mencoba. Namun, ketika mereka menang, otak melepaskan dopamin, zat kimia yang terkait dengan rasa senang dan motivasi. Ini menciptakan 'positive reinforcement' atau penguatan positif. Sebaliknya, saat kalah, mereka cenderung berpikir bahwa kemenangan berikutnya akan datang, sehingga mereka terus bermain.


Ketergantungan dan Toleransi yang Meningkat

Seperti narkoba atau alkohol, judi online memicu mekanisme adiksi yang serupa. Setelah terpapar dopamin secara berulang, otak membangun toleransi. Artinya, pemain membutuhkan jumlah taruhan yang lebih besar atau durasi bermain yang lebih lama untuk mencapai sensasi yang sama. Hal ini memicu lingkaran setan yang sulit diputus.

Ketergantungan ini tidak hanya soal keuangan, tapi juga emosional. Perasaan gembira yang singkat saat menang, diikuti oleh kekosongan dan penyesalan saat kalah, menciptakan siklus emosi yang tidak stabil. Pemain menjadi terisolasi, menarik diri dari lingkungan sosial, dan hanya berinteraksi dengan dunia maya tempat mereka berjudi.


Gangguan Kontrol Impuls: Kekuatan Kehendak yang Melemah

Judi online melemahkan kemampuan seseorang untuk mengendalikan impuls. Keputusan untuk terus bertaruh, meskipun sudah rugi besar, bukanlah tindakan rasional. Sebaliknya, itu adalah dorongan yang tidak terkontrol. Bagian otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan penilaian risiko, yaitu korteks prefrontal, menjadi tumpul.

Penjudi online sering kali berbohong pada diri sendiri dan orang lain tentang seberapa banyak mereka bermain atau seberapa besar kerugian mereka. Ini adalah mekanisme pertahanan diri untuk menghindari rasa malu dan menyembunyikan masalah yang sebenarnya. Kebohongan ini selanjutnya merusak hubungan interpersonal dan kepercayaan diri.


Dampak Buruk pada Kesehatan Mental

Secara klinis, adiksi judi online sering kali berjalan beriringan dengan masalah kesehatan mental lainnya. Beberapa di antaranya adalah:

Depresi dan Kecemasan: Kerugian finansial yang terus-menerus dan rasa bersalah yang mendalam dapat memicu gejala depresi. Kecemasan juga meningkat, terutama saat memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang untuk berjudi atau membayar hutang.
  • Stres dan Insomnia: Pikiran yang terus-menerus tentang taruhan dan hasil pertandingan membuat pikiran tidak pernah tenang. Hal ini mengganggu pola tidur dan meningkatkan tingkat stres secara keseluruhan.
  • Pikiran untuk Bunuh Diri: Dalam kasus yang ekstrem, ketika penjudi merasa terjebak, tidak ada jalan keluar, dan semua harapan hilang, pikiran untuk mengakhiri hidup dapat muncul.


Kesimpulan: Bukan Hanya Masalah Uang, Tapi Jiwa

Judi online adalah ancaman nyata bagi kesehatan mental. Bahayanya tidak hanya terletak pada kerugian finansial yang bisa menghancurkan hidup, tetapi juga pada erosi karakter dan rusaknya struktur psikologis seseorang.

Jika Anda atau orang terdekat Anda menunjukkan tanda-tanda adiksi judi online, penting untuk segera mencari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater. Mengakui masalah adalah langkah pertama, dan dukungan yang tepat dapat membantu memutus rantai adiksi ini sebelum terlambat.



20 August 2025

Nongkrongin Live Shopee: Sekadar Pemuas Diri Sesaat

aLamathuR.com - Fenomena nongkrong di live streaming belanja, terutama di platform seperti Shopee, kini jadi gaya hidup baru. Ditemani host yang karismatik dan diskon yang menggiurkan, kita sering kali merasa seperti sedang berpesta. Suasana interaktif, riuh, dan penuh dorongan untuk "check out sekarang!" membuat kita lupa diri. Aksi membeli menjadi sebuah pengalaman yang seru, mirip sebuah perburuan di mana kepuasan terbesar adalah saat berhasil mendapatkan barang impian. Namun, di balik serunya sensasi belanja ini, ada realitas yang kerap kali kita lupakan.

Banyak dari kita melakukan pembelian ini bukan karena kebutuhan, melainkan sebagai sebuah pelarian. Kehidupan yang penuh tekanan, stres, atau rasa bosan sering mendorong kita mencari kebahagiaan instan. Sensasi membeli, dengan gelombang dopamin yang dilepaskan di otak saat kita menekan tombol "beli sekarang", memberikan rasa puas yang begitu cepat. Ini adalah cara kita memuaskan diri secara instan. Seakan-akan, dengan memiliki barang baru, kita bisa mengisi kekosongan atau mengatasi perasaan negatif yang sedang kita rasakan.

Sayangnya, kepuasan itu sering kali bersifat fana. Setelah barang tiba di depan pintu, sensasi euforia yang kita rasakan saat membelinya perlahan memudar. Kardus dibuka, barang dipegang, dan tiba-tiba kita sadar bahwa barang itu tidak benar-benar kita butuhkan. Barang itu mungkin hanya akan berakhir menumpuk di lemari, menjadi pengingat atas sebuah pembelian impulsif yang tidak terencana. Pada akhirnya, kita kembali dihadapkan pada realitas, meninggalkan kekosongan yang sama seperti sebelum kita menekan tombol "beli" itu.